"Alam Takambang Jadi Guru"

Senin, 21 Oktober 2024

Penyimpangan Tasawwuf

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang Masalah

Dalam kajian-kajian keislaman sebagian kaum muslimin mengaitkannya dengan istilah tasawuf yang bagi mereka tasawuf merupakan salah satu dimensi spiritual dari ajaran Islam. Terlepas dari asal usul ilmu tasawuf. Akan tetapi, sebagian muslim memandang ajaran tasawuf berada di luar jalur Islam yaitu bahwa tasawuf merupakan sebuah ajaran yang berasal dari luar ajaran islam.[1]

Betapa banyak di antara musuh-musuh Islam yang datang dengan kekufuran yang nyata namun diklaim sebagai islam yang haq atau benar.[2] Maka tulisan ini akan mengajak pembaca kepada pandangan tasawuf berdasarkan al-Quran dan Hadits Nabi ShalAllahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang shahih. Insyaa Allah .

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka didapatlah rumusan masalah sebagai berikut:

1.      Apakah definisi daripada Tasawuf

2.      Bagaimana Problema dan solusi, metode dan pendekatan, relevansi dan kontekstual serta isu-isu pokok dalam kajiannya

 

C.     Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan daripada makalah ini adalah:

1.      Untuk mengetahui tentang makna tasawuf berdasarkan pandangan ulama-ulama terkemuka

2.      Untuk mengetahui bagaimana problema yang terjadi seputar tasawuf, solusi, relevansi dan kontekstual serta isu-isu pokok dalam kajiannya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.    Pengertian   

Kata tasawuf berasal dari kata, tashowwafa – yatashowwafa – tashawwafa, maknanya adalah proses pemurnian.[3] Ia merupakan suatu usaha penyucian jiwa dengan cara menjauhkan diri dari pengaruh dunia yang bersifat melalaikan.[4]

Secara terminologi istilah tasawuf di ambil dari berbagai kata di antaranya yaitu, Ahl al-Suffah artinya orang yang ikut pindah dengan Nabi dari Mekah ke Madinah, berarti  ini  menggambarkan  keadaan  orang  yang  mencurahkan  jiwa  raganya,  harta benda dan lainnya sebagai hanya untuk Allah . Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa ia berasal dari Shaf,  maksudnya adalah barisan  pertama yang ditemui dalam  ibadah  shalat  berjama’ah.  Ini memperlihatkan kondisi   seseorang   yang   senantiasa   berada   dibarisan   depan   dalam beribadah kepada Allah dan melakukan amal sholih lainnya.[5]

Namun pendapat di atas mendapatkan kritikan dari seorang ulama besar yaitu asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al Fauzan, seorang pengajar di masjid Nabawi dan sekaligus dosen di Universitas Islam Madinah. Beliau mengatakan tentang pendapat yang pertama di atas, yaitu:

“Ada yang mengatakan bahwa kata sufi berasal dari kata: Ahlissuffah , hal tersebut keliru, karena jika itu yang dimaksud maka kalimatnya (seharusnya) berbunyi : (صُفِي)  Shuffiyy.”[6]

Begitu juga dengan pendapat yang ke dua di atas Syaikh mengatakan:

“Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah barisan (shaf) terdepan dihadapan Allah , hal itu juga keliru, karena jika yang dimaksud demikian, maka yang benar (seharusnya) adalah:(صَفِي) Shoffiyy.”[7]

Di dalam buku ‘Tasawuf Dalam Pandangan Ulama Salaf’. Penulis menukilkan perkataan Ibnu Qoyyim tentang tasawuf, bahwa tasawuf adalah meninggalkan hal-hal yang buruk dan berhias diri dengan sifat-sifat yang utama.[8] 

Syaikh Fauzan mengakatan:

“Kata ‘tasawuf’ dan ‘Sufi’ belum dikenal pada masa-masa awal Islam, kata ini adalah ungkapan baru yang disusupkan ke dalam Islam oleh ummat-umat lain.”[9]

Cukup banyak materi penjelasan yang harus dimuat tentang terminologi tasawuf. Namun, penulis cukupkan dengan apa sudah ditulis di atas. Untuk informasi lebih lanjut penulis sarankan agar merujuk kepada kitab حقيقة التصوف (Hakikat Tasawuf) yang ditulis oleh Syaikh Shalih al Fauzan hafidzahullah.

 

B.     Esensi dan Eksistensi Tasawuf

1.      Problematika dan solusi pada tasawuf

Berdasarkan pada penjelasan di atas dapat kita nilai bahwa terjadi daya tarik menarik antara pro dan kontra terhadap tasawuf. Sebagian berpendapat bahwa tasawuf bukan sesuatu yang berasal dari dalam Islam. Ia merupakan ungkapan baru yang disusupkan ke dalam tubuh islam.[10].

Namun, bagi Sebagian kaum muslimin tasawuf merupakan inti atau jantung daripada ajaran Islam[11]. Inilah yang menjadi problema daripada tasawuf itu sendiri.

Kemudian untuk jalan keluar dari problematika ini maka diperlukan penengah sebagai solusi untuk meyelesaikan permasalahan yang ada. Di dalam al-Quran Allah berfirman bahwa apabila terjadi pertikaian di antara seorang muslim, yaitu:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian (An-Nisa: 59)[12]

2.      Metode dan pendekatan

Bagi sebagian kaum muslimin yang mempelajari tasawuf maka tokoh-tokoh mereka memiliki beberapa metode atau pendekatan di dalam penelitian terhadap tasawuf, dengan tujuan agar tasawuf dapat diterima oleh masyarakat atau pun untuk membentengi diri dari kritikan kaum muslimin lainnya.  Di antara metode yang mereka gunakan adalah sebagai berikut:

a.       Metode tematik

Pendekatan ini dilakukan oleh seorang tokoh tasawuf yang bernama Model Sayyed Husein Nashr. Melalui pendekatan ini ia mencoba menyajikan ajaran-ajaran tasawuf dengan tema-tema tertentu yang mungkin menarik.[13]

b.      Pendekatan eksploratif

Pendekatan yang dilakukan oleh Mustafa Zahri ini ia memusatkan perhatian dengan menulis sebuah buku yang berjudul, ‘Kunci Memahami Ilmu Tasawuf’. Pendekatan ini bersifat eksplorasi, yakni mengumpulkan ajaran-ajaran tasawuf yang ada dari berbagai sumber atau literature ilmu tasawuf.[14]

c.       Pendekatan tokoh

Metode yang dilakukan oleh Kautsar Azhari Noor ini adalah dengan cara studi tokoh atau perdebatan dengan tokoh. Paham yang di bawah oleh pendekatan ini adalah paham wahdatul wujud, yang mana dalam paham ini ada penyatuan antara Tuhan dengan makhlukNya.[15]

 

 

3.      Relevansi Tasawuf

Relevansi tasawuf maksudnya adalah ada kesamaan, sejalan, searah atau kata lainnya yang semakna. Di dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh ia menuliskan relevansi tasawuf yaitu:

”Jadi relevansi tasawuf dalam dalam perkembangan sains dan teknologi adalah tetap menyesuaikan diri dengan perkembangan sains dan teknolog dengan titik tekannya pada aspek moral dan penggunaanya serta menjaga keseimbangan lingkungan hidup. Tasawuf dengan segala aspeknya ajaran-ajarannya memberikan semangat spiritual yang bersifat global kepada umat manusia agar mawas diri dalam penggunaan teknologi.”[16]

 

4.      Isu-isu Pokok Tasawuf

Isu-isu pokok yang ada dalam tasawuf atau pun kritikan terhadap dunia tasawuf yang berasal daripada ulama-ulama besar umat ini di antaranya adalah:

a.       Syaikh Shalih Fauzan al fauzan menuliskan di dalam kitabnya:

“Doktor Sabir Tu’aimah menulis dalam bukunya: As-Sufiyah; mu’taqadan wamaslakan (Sufi; aqidah dan tuntunan), ‘Tampaknya tasawuf merupakan akibat dari pengaruh rahbaniyah (kependetaan) dalam agama Nasrani yang pada waktu itu para pendetanya mengenakan pakaian wol[17] dan jumlah mereka sangat banyak, yaitu golongan orang-orang yang bersungguh-sungguh melakukan prilaku tersebut di negeri-negeri yang dimerdekakan Islam dengan pengaruh tauhid, semuanya memberikan pengaruh yang tampak pada prilaku generasi pertama dari kalangan tasawuf’.[18]

 

Kemudian Syaikh melanjutkan:

“Syaikh Ihsan Ilahi Zahir –rahimahullah- dalam kitabnya: Tashawwuf Al-Mansya’ Walmashdar (Tasawuf; sejarah berdiri dan sumber-sumbernya) berkata: ‘Jika kita amati ajaran-ajaran tasawuf dari generasi pendiri hingga akhir serta pernyataan-pernyataan yang dinukilkan dari mereka dan yang terdapat dalam kitab-kitab tasawuf yang dulu hingga kini, maka akan kita dapatkan bahwa disana terdapat perbedaan yang sangat jauh antara ajaran tasawuf dengan ajaran Quran dan Sunnah, begitu juga kita tidak akan mendapatkan landasan dan dasarnya dalam sirah Rasulullah serta para shahabatnya yang mulia yang merupakan makhluk makhluk pilihan Allah. Bahkan sebaliknya kita dapatkan bahwa tasawuf diadopsi dari ajaran kependetaan kristen, kebrahmanaan Hindu, ritual Yahudi dan kezuhudan Budha’.”[19]

 

b.      Dari kalangan Sufi sendiri mereka berkata:

لست أعبد الله طمعًا في الجنة ولا خوفًا من النار  “Saya beribadah kepada Allah tidaklah karena mengharap surga, bukan juga karena takut neraka.”[20]

      Dari ungkapan di atas dapat kita pahami bahwa mereka beribadah kepada Allah  tidak mengharap surga dan juga bukan takut kepada azabnya Allah   . Ini tentunya sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang muliah. Sebagian salaf رحمه الله mengatakan:

 

من يعبد الله بالحب فقط فهو زنديق، ومن يعبد الله بالرجاء فقط فهو مرجئ، ومن يعبد الله بالخوف فقط فهو حروري، ومن يعبد الله بالحب والرجاء والخوف معًا، فهو المؤمن الحقيقي.

“Siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta semata maka dia adalah zindiq, dan siapa yang beribadah kepada Allah dengan raja’ (harapan) saja semata maka dia adalah murjiah. Dan siapa yang beribadah kepada Allah dengan takut semata maka dia adalah haruri, dan siapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta, harap dan takut, maka dia adalah mukmin sejati.”[21]

 

 

 

 

      Pendapat sufisme di atas juga sangat bertentangan dengan nash atau dalil-dalil al-Qur’an seperti:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. ”(QS.Al-Israa’:57).

وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ

“dan jadikanlah aku termasuk orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan.” (Asy-Syu’ara:85).

 

Dua dalil di atas menjelaskan kepada kita bahwa ungkapan sufi atau ajaran di dalam tasawuf bertentangan dengan ajaran Islam yang telah sempurna disampaikan oleh Rasulullah dan tidak membutuhkan penambahan atau pun pengurangan.

 

c.       Di dalam ajaran tasawuf untuk mencapai derajat waliyullah maka dikenal sebuah istilah yaitu taraqi.

Taraqi merupakan suatu cara yang dilalui dalam melaksanakan suatu peribadahan. Mereka melakukan ini agar bisa meggapai derajat insan kamil di sisi Allah . Jalan taraqi ini ditempuh dengan 4 cara, yaitu: syariat, thariqot, hakikat dan ma’rifat

Anehnya! Seorang tokoh tasawuf atau sufi yang Bernama Ibnu al Arabi mengatakan bahwa:

“Ma’rifat merupakan pemberian Tuhan kepada orang yang dipandang sanggup menerimanya. Seseorang yang dapat menangkap cahaya ma’rifat dengan mata hatinya akan dipenuhi kalbunya dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan. Bahkan tidak heran kalau seorang salik (sufi) merasa tidak puas dengan tingkatan ma’rifat saja, namun ingin lebih dari itu, ya’ni persatuan dengan Tuhan (ittihad).[22]

 

                                           Perkataan Ibnu Arabi di atas yang menyatakan penyatuan diri hamba dengan Tuhannya ini disebut dengan pemahaman wahdatul wujud, Tuhan melebur ke dalam dirinya. Ini jelas adanya dan ini bathil.[23] Ia juga mengatakan bahwa Tuhan dengan Hamba adalah suatu kesatuan wujud.[24] Na’udzubillah.

5.      Aliran-aliran Tasawuf dan Tokohnya

a.         Tasawuf Akhlaqi

                                                 Ajaran ini membahasa tentang kesempurnaan dan kesucian jiwa.

                                           Tokohnya adalah: al Muhasibi, al Ghazali, Abdul Qodir al Jilani

b.        Tasawuf Irfani

Berfokus kepada penyingkapan hakikat dan ma’rifat kepada Allah.

Tokohnya adalah: Dzun an Nun al Mishri

c.         Tasawuf Falsafi

      Adalah cabang tasawuf yang mengintegrasikan pemikiran filsafat dengan ajaran tasawuf.

Tokohnya: Ibnu Sina, Al Farabi, Ibnu Arabi, Mulla Sadra

d.       Tasawuf Syar’i

Adalah cabang tasawuf yang menekankan pentingnya mematuhi syariat Islam sebagai landasan untuk praktik spiritual

Tokohnya: Imam al-Ghazali, Abdul Qodir al Jilani

e.         Tasawuf Amali

Adalah cabang tasawuf yang menekankan pada praktik atau amalan spiritual sebagai jalan untuk mencapai kedekatan dengan Allah.

Tokohnya: Jalaludin Rumi, Ibnu Ata’illah, Al-Khawwas.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Dengan ber-isti’ana kepada Allah yang maha sempurna. Semoga diberikanNya kepada penulis juga kepada pembaca dan kepada kaum muslimin pada umumnya hidayah di atas hidayah.

Melalui tulisan yang sederhana ini penulis mencoba menyimpulkan pembahasan ini. Seperti yang sudah disampaikan di atas sekelumit tentang tasawuf yang sebenarnya membutuhkan pembahasan yang panjang untuk menuliskan beragam dalil.

Apabila tasawuf dicukupkan lingkupnya sebagaimana apa yang disampaikan oleh Ibnu Qoyyim bahwa, ‘tasawuf adalah menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela dan meghiasi diri dengan sifat-sifat mulia’. Maka penulis berpendapat bahwa setiap muslim musti mempelajari tasawuf dan bahkan wajib menjadi seorang sufi. Namun, pada kenyataannya tasawuf sudah kian lebar pembahasannya, bahkan ada yang mengatakan dirinya melebur dengan Tuhan dan juga ada yang mengatakan bahwa dirinya sudah tidak lagi dibebani oleh syari’at karena sudah berada pada puncak ma’rifatullah.

Tasawuf bukan berasal dari Islam. Seperti apa yang ditulisn oleh Syaikh Fauzan dalam kitabnya حَقيقَةُ التَّصَوُّفِ.[25]  Bagi penulis, cukupkan saja diri dengan mempelajari keilmuan Islam yang sangat luas. Seberapa persenkah ilmu Islam yang sudah kita pelajari? Sangat sedikit. Masih banyak ilmu yang jelas-jelas bagian dari Islam yang musti dipelajari. Rasulullah    bersabda.  

 طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”

 

Allah ‘alam.

 

 



[1] Abdul Hafizh, “Tasawuf Dalam Pandangan Ulama Salaf,” Pustaka Al Kautsar, 2011.

[2] Ibid.

[3] Asep Saepullah, “Tasawuf Sebagai Intisari Ajaran Islam Dan Relevansinya Terhadap Kehidupan Masyarakat Moderen,” Turast: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian 9, no. 2 (2021): 109–23, https://doi.org/10.15548/turast.v9i2.1828.

[4] Hendriks, Jemaat Vital & Menarik, Kanisius, 2002.

[5] Zaki Hidayat, “Pemahaman Islam Melalui Pendekatan Tasawuf,” At-Tahdzib 2, no. 1 (2014): 1–16, http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/tahdzib/article/view/1835.

[6] Abdullah Taslim, “Hakikat Tasawuf,” 2016, 1–26.

[7] Ibid.

[8] Hafizh, “Tasawuf Dalam Pandangan Ulama Salaf.”

[9] Taslim, “Hakikat Tasawuf.”

[10] Ibid.

[11] Saepullah, “Tasawuf Sebagai Intisari Ajaran Islam Dan Relevansinya Terhadap Kehidupan Masyarakat Moderen.”

[12] Al-Qur’an al-Kariim

[13] Sugeng Wanto, “Pendekatan Tasawuf Dalam Studi Islam Dan Aplikasinya Di Era Modern,” Jurnal At-Tafkir VII, no. 1 (2014): 131–44.

[14] Hidayat, “Pemahaman Islam Melalui Pendekatan Tasawuf.”

[15] Ibid.

[16] Uyun Fithrotul Vika, Relevansi Ilmu Tasawuf, vol. 4, 2021.

[17] Silahkan merujuk kepada sejarah Tasawuf

[18] Taslim, “Hakikat Tasawuf.”

[19] Ibid.

[20] Ibid.

[21] Ibid.

[22] Hendriks, Jemaat Vital & Menarik.

[23] Taslim, “Hakikat Tasawuf.”

[24] Hendriks, Jemaat Vital & Menarik.

[25] Syaikh DR. Fauzan al Fauzan, “حَقيقَةُ التَّصَوُّفِ.Pdf,” n.d.