Senin, 30 November 2015

Itikafku



Itikafku

Lantunan merdu azan Subuh telah berlalu. Sepenggalan matahari menanjak naik. Kini Subuh berganti Dhuha. Sementara mahasiswa tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing di lingkungan kampus. Masjid masih tampak lengang, hanya beberapa mahasiswa tampak Sholat Sunnah Dhuha dengan posisi berpencaran di dalam masjid. Di sudut kiri masjid seorang pemuda duduk dengan tenangnya. Nikmat alunan zikir pada Sang Maha Kuasa telah membawanya hanyut dengan indah seiring detakan jantung yang kian memuji asma Allah.
Tak lama tampak seorang pemuda dengan pakaian serba putih, kulit sao matang dengan rambut yang tumbuh tipis di dagu, ia merangkul sebuah tas di bahu kiri. Langkah pastinya menambah wibawa di atas ketampanan pemuda itu. Berdiri di atas sajadah yang terhampar, dengan kedua tangan mendekap di dada ia sholat Dhuha dengan khusuk.
***
“Ada apa dengan Rasyid, Il?”
Tanya Khaidar sambil menatap Mafril yang baru selesai sholat dengan wajah penuh tanya.
“Entahlah, aku juga tidak mengerti apa yang terjadi dengannya. Belakangan ini ia sangat membatasi diri untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar. Sudah setengah bulan ia menyendiri di masjid,” jawab Mafril dengan nada rendah sambil menggelengkan kepala. Lalu mereka menuju ke sudut sebelah kiri masjid di mana Rasyid tengah i’tikaf dan menikmati hidangan langit, Al-Qur’an Karim. Dengan jarak tiga kolom sajadah mereka duduk bersila di sisi kanan Rasyid, tak mau langsung mendekat. Tak mau menganggu.
“Asalamu’alaikum akhi.”
Khaidar mengucap salam kepada Rasyid yang tengah larut dalam zikirnya. Namun tiada jawaban, seolah Rasyid tak mendengar apa pun. Ia benar-benar telah tenggelam dalam lautan cinta dan kasih pada Illahi, bekas tetesan air bening tampak membasahi pipi Rasyid. Hal itu membuat Mafril semakin bertanya-tanya lalu mencoba untuk menegurnya namun nihil, ia menatap Khaidar dan Khaidar hanya menggeleng sambil mengangkat bahu. Mereka tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi.
“Tidak biasanya Rasyid seperti ini, ia biasanya itikaf di bulan Ramadhan, itu pun mengajak kita. Atau mungkin ia tengah dalam masalah,” bisik Mafril kepada Khaidar.
“Entahlah, namun sebegitu besarkah masalah yang ia hadapi. Sehingga seakan tak lagi mempedulikan kesehatannya. Tapi biasanya kalau ada masalah setelah bermunajat ia pasti cerita dengan kita. Namun ini sudah hari ke 15 dia di sini, kita tidak juga tahu apa yang terjadi dengan.”
Dengan tatapan pasti Khaidar memandang ke mata Mafril. Mafril mengangguk. Dengan penuh kepedulian ia coba mendekat, kembali mencoba menegur sahabat karibnya itu.
“Asalamu’alaikum akhi.”
Khaidar memegang pundak Rasyid. Dan masih tiada jawaban. Tak lama setelah itu terdengar rintihan seakan penuh dosa.
“Laa illaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin.”
Khaidar kenal betul dengan tasbih itu, tasbih yang diucapkan Nabi Yunus as waktu di dalam perut ikan. Mendengar rintihan itu Khaidar pun mendekat. Karena tahu sekarang sahabatnya itu sudah bisa diajak bicara.
“Rasyid ayo pulang ke pondok, sudah cukup lama engkau di sini. Nanti bisa sakit, besok kan masih bisa. Sudah 15 hari juga kau tidak kuliah, Syekh Ahmad setiap hari menanyakan tentang rancangan skripsimu, tidak tahu aku harus jawab apa.”
Ucap Mafril membujuk rasyid supaya bisa pulang dan istirahat.
“Sudah, kalian pulang saja. Aku tidak  apa di sini, tidak baik mengganggu orang yang sedang ibadah. Dan aku sudah tidak peduli lagi dengan itu semua, aku tidak peduli. Kematian lebih baik bagiku, “ bantahnya tenang dengan mata masih terpejam.
“Ya sudah, tapi kalau kamu lelah pulang saja untuk istirahat. Tidak baik menyiksa diri seperti ini. Kalau kau ada masalah berbagi jugalah dengan kami.”
Mereka tahu tak akan mampu menggoyang kuatnya azzam Rasyid untuk terus itikaf yang entah sampai kapan.
Mereka melangkah keluar masjid. Mafril berjalan beriringan di belakangan Khaidar dengan agak tertunduk. Sesaat hendak melewati pintu masjid Khaidar dikagetkan oleh Mafril.
“Khaidar …, Khaidar.”
Seraya memegang pundak Khaidar, Mafril menoleh dan menunjuk ke arah Rasyid yang sedang tergeletak di tempat sujudnya.
“Ada apa?”
Tak elak, dengan spontan ia memalingkan wajahnya ke arah yang ditunjuki Mafril.
“Rasyid …!”
Teriak Khaidar cukup membuat kaget mahasiswa yang berada dalam masjid.
***
Tubuh yang terbaring dengan lelah gemulai dalam ruangan 3x4 beraroma obat-obatan yang entah apa namanya, bibirnya pucat namun masih tampak kuat menceritakan elegi di pagi itu.
“Matahari menyengat tepat di atas ubun-ubun. Suara itu masih terus berlalu. Letusan demi letusan, nyawa kian terenggut. Kecamuk itu berbalut keganasan dan kekerasan, darah dibayar dengan kematian. Antara pasukan Panglima TNI Jenderal Endrianto Sutarto dengan pasukan Panglima Teungku Abdulla Syafi’i kian membuncah rasa ingin melampiaskan kesumat atas kematian yang menimpa rekan mereka.
“Perang itu telah menimbulkan kerugian yang luar biasa, baik materi mau pun nyawa dari kedua belah pihak. Serta korban sia-sia dari warga sipil yang tidak tergabung ke dalam salah satu kelompok bertikai. Sungguh perbuatan yang dibenci oleh Allah, saling membunuh di antara saudaranya sendiri. Namun tanda-tanda perang akan berakhir tidak kunjung datang, meski kedua belah pihak telah lelah dan kehabisan munisi. Orang Aceh yang percaya akan sebuah pepatah, “hana prang yang hana reuda,” serta berbagai mediasi internasional pun tak sanggup meredam permusuhan ini.
“Di antara kecamuk yang mendera, seorang wanita yang hidup sebatang kara dilarikan ke rumah sakit terdekat, peluru nyasar tepat di dada sebelah kirinya. Namun Allah-lah yang memiliki komando tertinggi yang sesungguhnya, bukan pemberontak bukan juga panglima aparatur negara ini. Wanita itu menghembuskan nafas terakhir sebelum ia mendapatkan perawatan medis rumah sakit.”
“Sungguh perbuatan yang dibenci oleh Allah, saling bertumpahan darah. Tapi tunggu dulu, tadi kamu bilang wanita itu hidup sebatang kara. Memangnya suami dan anaknya kemana Syid?” tanya Khaidar memotong cerita Rasyid yang tengah tergelatak lemas di atas tempat tidur di rumah sakit dengan mata berkaca-kaca. Ia coba menahan namun tak kuasa, akhirnya buliran bening itu jatuh membasahi pipi. Ia istigfar berulang-ulang sebelum melanjutkan cerita.
“Suami dari wanita itu tak lain ialah seorang pejuang untuk kemerdekaan Aceh, ia tergabung ke dalam sebuah organisasi Gerakan Aceh Merdeka. Laki-laki itu menemui ajalnya bersamaan dengan panglima gerakan Aceh merdeka, Teungku Abdulla Syafi’i 15 hari yang lalu. Aku mendapat kabar melalui telepon genggamku, bahwa pasangan suami istri itu telah dipanggil oleh Allah SWT. Oleh karena itu, aku tak akan menghentikan iktikafku sebelum Allah memaafkan dosa-dosaku.”
Rasyid kembali mengucapkan istigfar berulang-ulang.
“Terus apa hubungannya denganmu?” Mafril tampak penasaran, tak terkecuali dengan Khaidar.
“Iya apa hubungannya denganmu?”
“Mereka memiliki seorang anak laki-laki dan aku sangat kenal dengannya. Terakhir ia berkomunikasi dengan orang tuanya seminggu sebelum kejadian itu menimpa mereka.”
“Memangnya anak mereka itu di mana?” ujar Mafril.
“Ia tengah menimba ilmu di suatu Universitas Islam di Padang.”
Mendengar itu Khaidar dan Mafril saling pandang, mereka rasa ada yang aneh dengan penjelasan Rasyid.
“Ia tidak diizinkan pulang oleh kedua orang tuanya, ia harus menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu, juga karena kampung halaman mereka sudah menjadi medan pertempuran. Apalagi segala sesuatunya memang tidak mengizinkan untuk ia pulang sekarang.”
Sejenak Rasyid menghela nafas dalam-dalam dan mencoba bangkit dari tidurnya. Dengan kosong, tatapannya merayapi dinding dan lanjut bercerita.
“Oleh karena ia tidak bisa pulang, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk tafakur dan itikaf di masjid. Ia hanya keluar untuk memenuhi kebutuhan layaknya seorang manusia biasa, itu pun hanya sesekali. Tangis yang telah membanjiri hamparan sajadah, kebutuhan duniawi yang tak dipedulikannya kini harus diganti dengan kesehatan dan hilangnya penglihatan. Di tiap detik ia selalu bermunajat pada sang Illahi, bertasbih dan memohon ampun atas apa yang telah ia lakukan, mudah-mudahan itu semua bisa menjadi penebus dosa-dosanya”
“Jadi …,” seru Khaidar dan Mafril serentak.
“Iya, lelaki itu adalah aku.”
Tiga keping hati itu hancur lebur dan seakan penuh dosa. Lantunan lirih istigfar mengsisi seisi ruangan itu. Jarum jam yang berdetak dengan angkuhnya seakan berpesan, jaga dan cintailah kedua orangtuamu. Sebelum aku berdetak lebih keras pertanda waktunya telah habis.

Aziz Affan Ahaqi – Bukittinggi, 16 Agustus 2015.

Sabtu, 28 November 2015

Kenapa Uang Tidak Dicetak (Banyak?)



Uang, siapa yang tidak kenal dengan benda yang digunakan sebagai alat tukar yang sah di seluruh dunia ini. Ada juga yang mengatakan bahwa, “uang adalah segalanya,” tak bisa disalahkan juga. Karena apa yang kita butuhkan hampir semuanya dinilai dengan uang bahkan untuk buang air sekali pun. Namun setidaknya kita juga harus mengakui bahwa masih banyak  hal-hal yang yang kita miliki yang tidak mampu dinilai dengan kertas mulia bergambar Soekarno dan Hatta maupun yang berlogo Zionis Yahudi itu.

Uang juga bak Malaikat di dalam kehidupan, karena ada atau tidaknya akan menentukan baik atau buruknya kelangsungan suatu kehidupan. Maka dari itu kebanyakan orang kerapkali mengartikan masa depan yang cerah itu adalah kesuksesan dengan memiliki pundi-pundi uang yang banyak. Dan salah satunya dari sini juga bergeraklah setiap individu untuk sekolah-kuliah-setelah itu bekerja di kantor baik swasta atau negeri ataupun berwirausaha, pergi pagi pulang petang demi yang namanya uang. Terlihatlah manusia seakan diperbudak oleh nafsu dunia (uang). Dan kini uangnya menggunung di berbagai tempat penyimpanan (bank) di sebaliknya muncul satu pertanyaan kecil, apakah hidup cuma untuk uang dan uang? Kendaraan mewah, istri cantik, anak bersekolah tinggi dan hidup di lingkungan bisa terpandang semua itu karena uang. Namun ada rasa yang hambar di hati, Tuhan! Ya Tuhan, lupa akan bahwa Tuhan adalah di atas segalanya merupakan sumber petaka.

Di dalam kehidupan suatu negara misalnya Indonesia, uang juga merupakan penentu faktor kesejahteraan. Dan apakah negara yang memiliki uang banyak itu akan sejahtera? (belum tentu) karena banyaknya saja jumlah uang itu tidak menjamin kesejahteraan namun jumlah uang yang banyak dan merata di setiap daerah, ini pantas kita wujudkan!
Nah! Maka dari itu apakah tidak sebaiknya, Percetakan Uang Republik Indonesia atau pemerintah mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk melunasi hutang luar negeri ataupun membagi-bagikanya ke seluruh warga negara Indonesia?

Ada beberapa point yang perlu disampaikan untuk mencoba menjawab pertanyaan ini. Pertama di dalam percetakan atau penerbitan uang ada dua sistem yaitu ‘pseudo gold’ dan ‘uang fiat’. Pseudo gold merupakan percetakan uang dalam jumlah yang sebanding dengan jumlah persediaan emas dari badan yang menrbitkan uang tersebut. Sedangkan uang fiat tidak tergantung dengan cadangan emas yang dimilikinya, atau badan tersebut bebas menerbitkan atau mencetak uang sebanyak-banyaknya. Kedua, kita mengetahui bahwa harga dalam hukum ekonomi tergantung pada jumlah uang yang beredar dan jumlah persediaan barang. Jika jumlah persediaan barang melebihi jumlah uang yang beredar maka harga akan cenderung turun. Sebaliknya, jika jumlah uang melebihi jumlah persediaan barang harga akan cenderung naik. Maka dari ini kita akan mengatakan “Bahwa hukum tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi jumlah penerbitan uang.”

Karena belum mampu memaksimalkan pemungutan pajak dari rakyat, Ir. Soekarno pernah mengambil kebijakan untuk mencetak uang dalam jumlah yang besar (berlebih). Inflasi dalam jumlah yang tinggi hingga mencapai 650%, yang disebut hiper inflation. Kenapa tidak! Harga-harga melambung tinggi, dan berujung pada demonstrasi besar-besaran mahasiswa yang dikenal dengan ‘Tritura’ atau ‘tiga tuntutan rakyat’. Dan permintaan agar harga-harga diturunkan adalah salah satu dari tiga tuntutan tersebut.

Kita juga tahu, hal serupa terjadi pada Zimbabwe di tahun 2008 silam. Di mana pemerintahnya mengeluarkan kebijakan mencetak uang dalam jumlah besar untuk memperbanyak pegawai negeri guna membantu pemerintahan. Namun hasilnya tentu sangat tidak kita harapkan terjadi pada negeri tercinta ini, yaitu 2.200.000%. gila-gilaan bukan? Inflasi terjadi bukan dalam hitungan harian, mingguan atau bulanan. Tapi dalam hitungan detik dan menit, sehingga pada tanggal 20 Juli 2008 pemerintahnya mengeluarkan pecahan senilar 200 milyar.

Nah! Mengapa pemerintah Indonesia tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk melunasi hutang luar negeri atau membagi-bagikanya kepada seluruh warga negara?
Jika kita semua diberi uang masing-masing per kepala keluarga 1M oleh President jokowi. Mungkin si Udin jadi batal nanam cabenya, dan ia beli kendaraan baru-pergi ‘hangout’ kian kemari. Akhirnya produktivitas menjadi lesuh, karena petani cabe tidak ada lagi-cabe langka dan akhirnya inflasi pun terjadi. Kejadian ini disebut ‘Lingkaran Vicieus’ atau ada juga yang mengatakan ‘Lingkaran setan’.

Nah …! Sekarang kita dapat mengambil kesimpulan apakah kita mau seperti Zimbabwe yang pecahan ada senilai 200M. Jika mau ke pasar beli cabe kita akan bawa gerobak, untuk apa? Untuk tempat cabenya bukan? Bukanlah! Masa beli cabe 1 gerobak, emangnya mau bikin sambal 1 kampung? Itu gerobak untuk tempat membawa uang yang senilai dengan harga sekilo cabe. Ribet bukan?

Maka dari itu, masih ada hal-hal yang mesti kita banggakan dari negeri yang bernama Indonesia ini. Baik itu dari ragam suku dan budaya yang perlu secara gotong royong kita selamatkan, nilai tukar Rupiah juga harus terus kita angkat secara gotong royong juga. Karena hal ini tak hanya menjadi beban bagi pemerintah namun tanggung jawab kita semua.
Mari, kalau bukan kita siapa lagi. Kalau bukan sekarang kapan lagi.


Awal Mula Libur Hari Minggu (Umat Islam)


                                               Asal muasal Libur Hari Mingu (Umat Islam)

Hari minggu merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh sebagian orang. Agar bisa berkumpul seharian bersama keluarga, jalan-jalan ke tempat wisata melepas penat seminggu beraktivitas atau pun hanya sekedar santai-santai di rumah. Namun pernahkah terpikir oleh kita, mengapa hari libur mesti hari minggu? Kenapa tidak hari senin, jumat atau hari lainnya. Sebuah pertanyaan yang sederhana namun cukup menantang.
Puluhan tahun yang silam turki dikuasai oleh pemerintahan yang sekuler. Di mana kaum atau kelompok yang berkuasa memisahkan antara pemerintahan dengan agama (Islam) atau lebih tepatnya membabat Islam hingga ke akar-akarnya. Melalui Majelis Agung mereka (kaum sekuler) mengeluarkan keputusan yang mengamputasi peran kekhalifahan pada tanggal 1 Nopember 1922.
Pada tahun 1923, kaum sekuler kian memperlihatkan ketidaksukaannya akan Islam. Mereka memindahkan ibu kota Turki dari Istanbul ke Ankara pada tanggal 13 Oktober. Dikarenakan Istanbul identik dengan Islam. Pada bulan yang sama, Mustafal Kemal dideklarasikan oleh Majelis Agung Nasional setelah dipilih menjadi presiden pertama Repuublik Turki. Dengan terpilihnya Mustafa Kemal, kaum sekuler kian memperlihatkan taring kelalimannya dengan meghapus kekhalifahan dan menghapus segala hubungan dengan Kekhalifahan Utsmani. Ini menjadi tregedi dalam sejarah umat Islam.
Berlanjut pada tahun berikutnya, pada 16 Maret 1924 Majelis Agung Nasional mengeluarkan undang-undang penggabungan pendidikan. Dengan itu mereka menghapus Madrasah Al-Qur’an Madrasah dan Agama, madrasah-madrasah dilebur menjadi satu dalam kementrian pendidikan  umum. Berlanjut pada bulan berikutnya Kementrian Waqaf, Kantor Urusan Agama beserta dengan Pengadilan Agama dhapus. Tak elak juga mereka mengoreksi konstitusi negara, ini menjadi awal kelaliman kaum sekuler pada konstitusi.
Karena tidak tahan akan jajahan Kaum Sekuler, pada 13 Februari 1925. Masyarakat melakukan pemberontakan yang dipimpin oleh Syaikh Said Biran. Namun hal ini dapat dipadamkan oleh militer sekuler. Pada 29 Juni 1925 Syaikh Said Biran dihukum mati beserta pengikutnya, kejadian ini berujung dihapusnya tempat pengajian sufi di Anatoli Timur. Disebabkan hal itu merupakan salah satu bentuk praktek dari ajaran Islamtentu mereka menginginkan musnahnya ajaran Islam dari sejarah Turki. Di tahun yang sama pada tanggal 24 Agustus Mustafa Kemal memakai topi Eropa. Pada 2 September, ziarah ke makam wali dan sufi di larang dan ditutup. Dua hari setelah dilarang dan ditutupnya makam para sufi dan wali diadakan pesta dansa di Istanbul, sejarah mencatat ini untuk pertama kalinya wanita ikut dansa bercampur dengan laki-laki yang bukan mahromnya, layaknya kota-kota besar di Eropa. 8 Desember dikeluarkan UU penerapan cara berpakaian ala Eropa serta dilarang memakai pakaian yang mencerminkan Islam dan tradisional Turki. Tidak terkecuali hal ini pun berlaku untuk imam Masjid pada 14 Desember, bersamaan dengan dilarangnya pemakaian gelar syaikh, khalifah dan murid.
Pada tahun 1926, radikalis dari kaum sekuler tetap berlanjut. Pada 17 Februari dikeluarkan undang-undang yang menghapus pernikahan secara syariah, diganti dengan tata cara Eropa. Anak gadis dibebaskan sebebas-bebasnya (bergaul) memilih pasangan. Kejahiliaan kaum sekuler ini semakin menjadi-jadinya dan bukti membeonya terhadap Eropa pada 10 April. Hukum syariah yang menjadi landasan selama ini dimusnahkan dan diganti dengan hukum perdata Eropa.
Tiada jeda dan tiada ampun, berlanjut pada tahun 1927 kaum radikalis menghapus simbol-simbol Daulah Utsmaniyah apa pun itu. Lalu target sekulerisasi berikutnya adalah bahasa.
Pada Februari 1928, bahasa yang menjadi pegangan bagi umat Islam dalam memahami Al-Qur’an tidak boleh dipakai. Begitu pun dengan Khutbah Jumat berbahasa Turki pertama kalinya dilakukan. Kalimat Allah yang biasanya digunakan dalam teks sumpah oleh pejabat pemerintahan dikeluarkan. Lalu, kata-kata agama resmi, Islam, dihapus dalam semua ungkapan kenegaraan.

Bersambung …,
Note: Cerita ini diolah dari berbagai sumber!

Ingatkah Kita?



Ingatkah Kita?

Di suatu saat 
Tatkala mentari tak sanggup lagi bersinar 
Di kala bumi rentah sudah tuk beredar 
Di saat gelap enggan sudah bertemankan malam 
Ketika dosa kian hari terus teranyam

Ketika harap tak lagi berpadu doa 
Di kala raga lemas sudah tuk bertahta 
Saat daun, gugurnya telah tiba 
Ketika bumi merindu peluklah raga

Di saat itulah kiranya tirai-tirai ragu tersibak 
Hidup ‘nelangsa’,  mengharap kasih Illahi kian menampak 
Namun, janji tetaplah janji. 
Layar lebar terpapar memberi bukti

Tiada lagi guna tangisan 
Karena diri kini dibalut kafan bermahkota nisan

Menderitalah …! 
Di gelanggang siksa-Nya!