Itikafku
Lantunan merdu azan Subuh telah
berlalu. Sepenggalan matahari menanjak naik. Kini Subuh berganti Dhuha.
Sementara mahasiswa tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing di
lingkungan kampus. Masjid masih tampak lengang, hanya beberapa mahasiswa tampak
Sholat Sunnah Dhuha dengan posisi berpencaran di dalam masjid. Di sudut kiri
masjid seorang pemuda duduk dengan tenangnya. Nikmat alunan zikir pada Sang
Maha Kuasa telah membawanya hanyut dengan indah seiring detakan jantung yang
kian memuji asma Allah.
Tak lama tampak seorang pemuda
dengan pakaian serba putih, kulit sao matang dengan rambut yang tumbuh tipis di
dagu, ia merangkul sebuah tas di bahu kiri. Langkah pastinya menambah wibawa di
atas ketampanan pemuda itu. Berdiri di atas sajadah yang terhampar, dengan
kedua tangan mendekap di dada ia sholat Dhuha dengan khusuk.
***
“Ada apa dengan Rasyid, Il?”
Tanya Khaidar sambil menatap Mafril yang baru
selesai sholat dengan wajah penuh tanya.
“Entahlah, aku juga tidak mengerti apa yang
terjadi dengannya. Belakangan ini ia sangat membatasi diri untuk berkomunikasi
dengan lingkungan sekitar. Sudah setengah bulan ia menyendiri di masjid,” jawab
Mafril dengan nada rendah sambil menggelengkan kepala. Lalu mereka menuju ke
sudut sebelah kiri masjid di mana Rasyid tengah i’tikaf dan menikmati hidangan
langit, Al-Qur’an Karim. Dengan jarak tiga kolom sajadah mereka duduk bersila
di sisi kanan Rasyid, tak mau langsung mendekat. Tak mau menganggu.
“Asalamu’alaikum akhi.”
Khaidar mengucap salam kepada Rasyid yang
tengah larut dalam zikirnya. Namun tiada jawaban, seolah Rasyid tak mendengar
apa pun. Ia benar-benar telah tenggelam dalam lautan cinta dan kasih pada
Illahi, bekas tetesan air bening tampak membasahi pipi Rasyid. Hal itu membuat
Mafril semakin bertanya-tanya lalu mencoba untuk menegurnya namun nihil, ia
menatap Khaidar dan Khaidar hanya menggeleng sambil mengangkat bahu. Mereka tidak
mengerti apa sebenarnya yang terjadi.
“Tidak biasanya Rasyid seperti ini, ia biasanya
itikaf di bulan Ramadhan, itu pun mengajak kita. Atau mungkin ia tengah dalam
masalah,” bisik Mafril kepada Khaidar.
“Entahlah, namun sebegitu besarkah masalah yang
ia hadapi. Sehingga seakan tak lagi mempedulikan kesehatannya. Tapi biasanya kalau
ada masalah setelah bermunajat ia pasti cerita dengan kita. Namun ini sudah
hari ke 15 dia di sini, kita tidak juga tahu apa yang terjadi dengan.”
Dengan tatapan pasti Khaidar memandang ke mata
Mafril. Mafril mengangguk. Dengan penuh kepedulian ia coba mendekat, kembali
mencoba menegur sahabat karibnya itu.
“Asalamu’alaikum akhi.”
Khaidar memegang pundak Rasyid. Dan masih tiada
jawaban. Tak lama setelah itu terdengar rintihan seakan penuh dosa.
“Laa illaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu
minazh zhaalimiin.”
Khaidar kenal betul dengan tasbih itu, tasbih
yang diucapkan Nabi Yunus as waktu di dalam perut ikan. Mendengar rintihan itu
Khaidar pun mendekat. Karena tahu sekarang sahabatnya itu sudah bisa diajak
bicara.
“Rasyid ayo pulang ke pondok, sudah cukup lama
engkau di sini. Nanti bisa sakit, besok kan masih bisa. Sudah 15 hari
juga kau tidak kuliah, Syekh Ahmad setiap hari menanyakan tentang rancangan
skripsimu, tidak tahu aku harus jawab apa.”
Ucap Mafril membujuk rasyid supaya bisa pulang
dan istirahat.
“Sudah, kalian pulang saja. Aku tidak apa di sini, tidak baik mengganggu orang yang
sedang ibadah. Dan aku sudah tidak peduli lagi dengan itu semua, aku tidak
peduli. Kematian lebih baik bagiku, “ bantahnya tenang dengan mata masih
terpejam.
“Ya sudah, tapi kalau kamu lelah pulang saja
untuk istirahat. Tidak baik menyiksa diri seperti ini. Kalau kau ada masalah
berbagi jugalah dengan kami.”
Mereka tahu tak akan mampu menggoyang kuatnya azzam
Rasyid untuk terus itikaf yang entah sampai kapan.
Mereka melangkah keluar masjid. Mafril berjalan
beriringan di belakangan Khaidar dengan agak tertunduk. Sesaat hendak melewati
pintu masjid Khaidar dikagetkan oleh Mafril.
“Khaidar …, Khaidar.”
Seraya memegang pundak Khaidar, Mafril menoleh
dan menunjuk ke arah Rasyid yang sedang tergeletak di tempat sujudnya.
“Ada apa?”
Tak elak, dengan spontan ia memalingkan
wajahnya ke arah yang ditunjuki Mafril.
“Rasyid …!”
Teriak Khaidar cukup membuat kaget mahasiswa
yang berada dalam masjid.
***
Tubuh yang terbaring dengan lelah
gemulai dalam ruangan 3x4 beraroma obat-obatan yang entah apa namanya, bibirnya
pucat namun masih tampak kuat menceritakan elegi di pagi itu.
“Matahari menyengat tepat di atas
ubun-ubun. Suara itu masih terus berlalu. Letusan demi letusan, nyawa kian
terenggut. Kecamuk itu berbalut keganasan dan kekerasan, darah dibayar dengan
kematian. Antara pasukan Panglima TNI Jenderal Endrianto Sutarto dengan pasukan
Panglima Teungku Abdulla Syafi’i kian membuncah rasa ingin melampiaskan kesumat
atas kematian yang menimpa rekan mereka.
“Perang itu telah menimbulkan
kerugian yang luar biasa, baik materi mau pun nyawa dari kedua belah pihak.
Serta korban sia-sia dari warga sipil yang tidak tergabung ke dalam salah satu
kelompok bertikai. Sungguh perbuatan yang dibenci oleh Allah, saling membunuh
di antara saudaranya sendiri. Namun tanda-tanda perang akan berakhir tidak
kunjung datang, meski kedua belah pihak telah lelah dan kehabisan munisi. Orang
Aceh yang percaya akan sebuah pepatah, “hana prang yang hana reuda,” serta
berbagai mediasi internasional pun tak sanggup meredam permusuhan ini.
“Di antara kecamuk yang mendera,
seorang wanita yang hidup sebatang kara dilarikan ke rumah sakit terdekat, peluru
nyasar tepat di dada sebelah kirinya. Namun Allah-lah yang memiliki komando
tertinggi yang sesungguhnya, bukan pemberontak bukan juga panglima aparatur
negara ini. Wanita itu menghembuskan nafas terakhir sebelum ia mendapatkan
perawatan medis rumah sakit.”
“Sungguh perbuatan yang dibenci oleh
Allah, saling bertumpahan darah. Tapi tunggu dulu, tadi kamu bilang wanita itu
hidup sebatang kara. Memangnya suami dan anaknya kemana Syid?” tanya Khaidar
memotong cerita Rasyid yang tengah tergelatak lemas di atas tempat tidur di
rumah sakit dengan mata berkaca-kaca. Ia coba menahan namun tak kuasa, akhirnya
buliran bening itu jatuh membasahi pipi. Ia istigfar berulang-ulang sebelum
melanjutkan cerita.
“Suami dari wanita itu tak lain
ialah seorang pejuang untuk kemerdekaan Aceh, ia tergabung ke dalam sebuah
organisasi Gerakan Aceh Merdeka. Laki-laki itu menemui ajalnya bersamaan dengan
panglima gerakan Aceh merdeka, Teungku Abdulla Syafi’i 15 hari yang lalu. Aku
mendapat kabar melalui telepon genggamku, bahwa pasangan suami istri itu telah
dipanggil oleh Allah SWT. Oleh karena itu, aku tak akan menghentikan iktikafku
sebelum Allah memaafkan dosa-dosaku.”
Rasyid kembali mengucapkan istigfar
berulang-ulang.
“Terus apa hubungannya denganmu?” Mafril tampak
penasaran, tak terkecuali dengan Khaidar.
“Iya apa hubungannya denganmu?”
“Mereka memiliki seorang anak laki-laki dan aku
sangat kenal dengannya. Terakhir ia berkomunikasi dengan orang tuanya seminggu
sebelum kejadian itu menimpa mereka.”
“Memangnya anak mereka itu di mana?” ujar
Mafril.
“Ia tengah menimba ilmu di suatu Universitas
Islam di Padang.”
Mendengar itu Khaidar dan Mafril saling
pandang, mereka rasa ada yang aneh dengan penjelasan Rasyid.
“Ia tidak diizinkan pulang oleh kedua orang
tuanya, ia harus menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu, juga karena kampung
halaman mereka sudah menjadi medan pertempuran. Apalagi segala sesuatunya
memang tidak mengizinkan untuk ia pulang sekarang.”
Sejenak Rasyid menghela nafas dalam-dalam dan
mencoba bangkit dari tidurnya. Dengan kosong, tatapannya merayapi dinding dan
lanjut bercerita.
“Oleh karena ia tidak bisa pulang, akhirnya
lelaki itu memutuskan untuk tafakur dan itikaf di masjid. Ia hanya keluar untuk
memenuhi kebutuhan layaknya seorang manusia biasa, itu pun hanya sesekali.
Tangis yang telah membanjiri hamparan sajadah, kebutuhan duniawi yang tak
dipedulikannya kini harus diganti dengan kesehatan dan hilangnya penglihatan. Di
tiap detik ia selalu bermunajat pada sang Illahi, bertasbih dan memohon ampun
atas apa yang telah ia lakukan, mudah-mudahan itu semua bisa menjadi penebus
dosa-dosanya”
“Jadi …,” seru Khaidar dan Mafril serentak.
“Iya, lelaki itu adalah aku.”
Tiga keping hati itu hancur lebur dan seakan
penuh dosa. Lantunan lirih istigfar mengsisi seisi ruangan itu. Jarum jam yang
berdetak dengan angkuhnya seakan berpesan, jaga dan cintailah kedua orangtuamu.
Sebelum aku berdetak lebih keras pertanda waktunya telah habis.
Aziz Affan Ahaqi – Bukittinggi, 16 Agustus
2015.