Asal muasal Libur Hari Mingu (Umat Islam)
Hari minggu merupakan hari yang
ditunggu-tunggu oleh sebagian orang. Agar bisa berkumpul seharian bersama
keluarga, jalan-jalan ke tempat wisata melepas penat seminggu beraktivitas atau
pun hanya sekedar santai-santai di rumah. Namun pernahkah terpikir oleh kita,
mengapa hari libur mesti hari minggu? Kenapa tidak hari senin, jumat atau hari
lainnya. Sebuah pertanyaan yang sederhana namun cukup menantang.
Puluhan tahun yang silam turki
dikuasai oleh pemerintahan yang sekuler. Di mana kaum atau kelompok yang
berkuasa memisahkan antara pemerintahan dengan agama (Islam) atau lebih
tepatnya membabat Islam hingga ke akar-akarnya. Melalui Majelis Agung mereka
(kaum sekuler) mengeluarkan keputusan yang mengamputasi peran kekhalifahan pada
tanggal 1 Nopember 1922.
Pada tahun 1923, kaum sekuler kian
memperlihatkan ketidaksukaannya akan Islam. Mereka memindahkan ibu kota Turki
dari Istanbul ke Ankara pada tanggal 13 Oktober. Dikarenakan Istanbul identik
dengan Islam. Pada bulan yang sama, Mustafal Kemal dideklarasikan oleh Majelis
Agung Nasional setelah dipilih menjadi presiden pertama Repuublik Turki. Dengan
terpilihnya Mustafa Kemal, kaum sekuler kian memperlihatkan taring kelalimannya
dengan meghapus kekhalifahan dan menghapus segala hubungan dengan Kekhalifahan
Utsmani. Ini menjadi tregedi dalam sejarah umat Islam.
Berlanjut pada tahun berikutnya,
pada 16 Maret 1924 Majelis Agung Nasional mengeluarkan undang-undang
penggabungan pendidikan. Dengan itu mereka menghapus Madrasah Al-Qur’an
Madrasah dan Agama, madrasah-madrasah dilebur menjadi satu dalam kementrian
pendidikan umum. Berlanjut pada bulan
berikutnya Kementrian Waqaf, Kantor Urusan Agama beserta dengan Pengadilan
Agama dhapus. Tak elak juga mereka mengoreksi konstitusi negara, ini menjadi
awal kelaliman kaum sekuler pada konstitusi.
Karena tidak tahan akan jajahan Kaum
Sekuler, pada 13 Februari 1925. Masyarakat melakukan pemberontakan yang
dipimpin oleh Syaikh Said Biran. Namun hal ini dapat dipadamkan oleh militer
sekuler. Pada 29 Juni 1925 Syaikh Said Biran dihukum mati beserta pengikutnya,
kejadian ini berujung dihapusnya tempat pengajian sufi di Anatoli Timur.
Disebabkan hal itu merupakan salah satu bentuk praktek dari ajaran Islam−tentu mereka
menginginkan musnahnya ajaran Islam dari sejarah Turki. Di tahun yang sama pada
tanggal 24 Agustus Mustafa Kemal memakai topi Eropa. Pada 2 September, ziarah
ke makam wali dan sufi di larang dan ditutup. Dua hari setelah dilarang dan
ditutupnya makam para sufi dan wali diadakan pesta dansa di Istanbul, sejarah
mencatat ini untuk pertama kalinya wanita ikut dansa bercampur dengan laki-laki
yang bukan mahromnya, layaknya kota-kota besar di Eropa. 8 Desember dikeluarkan
UU penerapan cara berpakaian ala Eropa serta dilarang memakai pakaian yang
mencerminkan Islam dan tradisional Turki. Tidak terkecuali hal ini pun berlaku
untuk imam Masjid pada 14 Desember, bersamaan dengan dilarangnya pemakaian
gelar syaikh, khalifah dan murid.
Pada tahun 1926, radikalis dari kaum
sekuler tetap berlanjut. Pada 17 Februari dikeluarkan undang-undang yang
menghapus pernikahan secara syariah, diganti dengan tata cara Eropa. Anak gadis
dibebaskan sebebas-bebasnya (bergaul) memilih pasangan. Kejahiliaan kaum
sekuler ini semakin menjadi-jadinya dan bukti membeonya terhadap Eropa pada 10
April. Hukum syariah yang menjadi landasan selama ini dimusnahkan dan diganti
dengan hukum perdata Eropa.
Tiada jeda dan tiada ampun,
berlanjut pada tahun 1927 kaum radikalis menghapus simbol-simbol Daulah
Utsmaniyah apa pun itu. Lalu target sekulerisasi berikutnya adalah bahasa.
Pada Februari 1928, bahasa yang
menjadi pegangan bagi umat Islam dalam memahami Al-Qur’an tidak boleh dipakai.
Begitu pun dengan Khutbah Jumat berbahasa Turki pertama kalinya dilakukan.
Kalimat Allah yang biasanya digunakan dalam teks sumpah oleh pejabat
pemerintahan dikeluarkan. Lalu, kata-kata agama resmi, Islam, dihapus dalam
semua ungkapan kenegaraan.
Bersambung …,
Note: Cerita ini diolah dari berbagai sumber!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar