Uang, siapa yang tidak kenal dengan benda yang
digunakan sebagai alat tukar yang sah di seluruh dunia ini. Ada juga yang
mengatakan bahwa, “uang adalah segalanya,” tak bisa disalahkan juga. Karena apa
yang kita butuhkan hampir semuanya dinilai dengan uang bahkan untuk buang air
sekali pun. Namun setidaknya kita juga harus mengakui bahwa masih banyak hal-hal yang yang kita miliki yang tidak
mampu dinilai dengan kertas mulia bergambar Soekarno dan Hatta maupun yang
berlogo Zionis Yahudi itu.
Uang juga bak Malaikat di dalam kehidupan, karena ada
atau tidaknya akan menentukan baik atau buruknya kelangsungan suatu kehidupan.
Maka dari itu kebanyakan orang kerapkali mengartikan masa depan yang cerah itu
adalah kesuksesan dengan memiliki pundi-pundi uang yang banyak. Dan salah
satunya dari sini juga bergeraklah setiap individu untuk sekolah-kuliah-setelah
itu bekerja di kantor baik swasta atau negeri ataupun berwirausaha, pergi pagi
pulang petang demi yang namanya uang. Terlihatlah manusia seakan diperbudak
oleh nafsu dunia (uang). Dan kini uangnya menggunung di berbagai tempat
penyimpanan (bank) di sebaliknya muncul satu pertanyaan kecil, apakah hidup
cuma untuk uang dan uang? Kendaraan mewah, istri cantik, anak bersekolah tinggi
dan hidup di lingkungan bisa terpandang semua itu karena uang. Namun ada rasa
yang hambar di hati, Tuhan! Ya Tuhan, lupa akan bahwa Tuhan adalah di atas
segalanya merupakan sumber petaka.
Di dalam kehidupan suatu negara misalnya Indonesia,
uang juga merupakan penentu faktor kesejahteraan. Dan apakah negara yang
memiliki uang banyak itu akan sejahtera? (belum tentu) karena banyaknya saja
jumlah uang itu tidak menjamin kesejahteraan namun jumlah uang yang banyak dan
merata di setiap daerah, ini pantas kita wujudkan!
Nah! Maka dari itu apakah tidak sebaiknya, Percetakan
Uang Republik Indonesia atau pemerintah mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk
melunasi hutang luar negeri ataupun membagi-bagikanya ke seluruh warga negara
Indonesia?
Ada beberapa point yang perlu disampaikan untuk
mencoba menjawab pertanyaan ini. Pertama di dalam percetakan atau penerbitan
uang ada dua sistem yaitu ‘pseudo gold’ dan ‘uang fiat’. Pseudo gold merupakan
percetakan uang dalam jumlah yang sebanding dengan jumlah persediaan emas dari
badan yang menrbitkan uang tersebut. Sedangkan uang fiat tidak tergantung
dengan cadangan emas yang dimilikinya, atau badan tersebut bebas menerbitkan
atau mencetak uang sebanyak-banyaknya. Kedua, kita mengetahui bahwa harga dalam
hukum ekonomi tergantung pada jumlah uang yang beredar dan jumlah persediaan
barang. Jika jumlah persediaan barang melebihi jumlah uang yang beredar maka
harga akan cenderung turun. Sebaliknya, jika jumlah uang melebihi jumlah
persediaan barang harga akan cenderung naik. Maka dari ini kita akan mengatakan
“Bahwa hukum tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi jumlah
penerbitan uang.”
Karena belum mampu memaksimalkan pemungutan pajak dari
rakyat, Ir. Soekarno pernah mengambil kebijakan untuk mencetak uang dalam
jumlah yang besar (berlebih). Inflasi dalam jumlah yang tinggi hingga mencapai
650%, yang disebut hiper inflation. Kenapa tidak! Harga-harga melambung
tinggi, dan berujung pada demonstrasi besar-besaran mahasiswa yang dikenal
dengan ‘Tritura’ atau ‘tiga tuntutan rakyat’. Dan permintaan agar harga-harga
diturunkan adalah salah satu dari tiga tuntutan tersebut.
Kita juga tahu, hal serupa terjadi pada Zimbabwe di
tahun 2008 silam. Di mana pemerintahnya mengeluarkan kebijakan mencetak uang
dalam jumlah besar untuk memperbanyak pegawai negeri guna membantu pemerintahan.
Namun hasilnya tentu sangat tidak kita harapkan terjadi pada negeri tercinta
ini, yaitu 2.200.000%. gila-gilaan bukan? Inflasi terjadi bukan dalam hitungan
harian, mingguan atau bulanan. Tapi dalam hitungan detik dan menit, sehingga
pada tanggal 20 Juli 2008 pemerintahnya mengeluarkan pecahan senilar 200 milyar.
Nah! Mengapa pemerintah Indonesia tidak mencetak uang
sebanyak-banyaknya untuk melunasi hutang luar negeri atau membagi-bagikanya
kepada seluruh warga negara?
Jika kita semua diberi uang masing-masing per kepala
keluarga 1M oleh President jokowi. Mungkin si Udin jadi batal nanam cabenya,
dan ia beli kendaraan baru-pergi ‘hangout’ kian kemari. Akhirnya produktivitas
menjadi lesuh, karena petani cabe tidak ada lagi-cabe langka dan akhirnya
inflasi pun terjadi. Kejadian ini disebut ‘Lingkaran Vicieus’ atau ada juga
yang mengatakan ‘Lingkaran setan’.
Nah …! Sekarang kita dapat mengambil kesimpulan apakah
kita mau seperti Zimbabwe yang pecahan ada senilai 200M. Jika mau ke pasar beli
cabe kita akan bawa gerobak, untuk apa? Untuk tempat cabenya bukan? Bukanlah!
Masa beli cabe 1 gerobak, emangnya mau bikin sambal 1 kampung? Itu gerobak
untuk tempat membawa uang yang senilai dengan harga sekilo cabe. Ribet bukan?
Maka dari itu, masih ada hal-hal yang mesti kita
banggakan dari negeri yang bernama Indonesia ini. Baik itu dari ragam suku dan
budaya yang perlu secara gotong royong kita selamatkan, nilai tukar Rupiah juga
harus terus kita angkat secara gotong royong juga. Karena hal ini tak hanya menjadi
beban bagi pemerintah namun tanggung jawab kita semua.
Mari, kalau bukan kita siapa lagi. Kalau bukan
sekarang kapan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar