Sabtu, 28 November 2015

Kenapa Uang Tidak Dicetak (Banyak?)



Uang, siapa yang tidak kenal dengan benda yang digunakan sebagai alat tukar yang sah di seluruh dunia ini. Ada juga yang mengatakan bahwa, “uang adalah segalanya,” tak bisa disalahkan juga. Karena apa yang kita butuhkan hampir semuanya dinilai dengan uang bahkan untuk buang air sekali pun. Namun setidaknya kita juga harus mengakui bahwa masih banyak  hal-hal yang yang kita miliki yang tidak mampu dinilai dengan kertas mulia bergambar Soekarno dan Hatta maupun yang berlogo Zionis Yahudi itu.

Uang juga bak Malaikat di dalam kehidupan, karena ada atau tidaknya akan menentukan baik atau buruknya kelangsungan suatu kehidupan. Maka dari itu kebanyakan orang kerapkali mengartikan masa depan yang cerah itu adalah kesuksesan dengan memiliki pundi-pundi uang yang banyak. Dan salah satunya dari sini juga bergeraklah setiap individu untuk sekolah-kuliah-setelah itu bekerja di kantor baik swasta atau negeri ataupun berwirausaha, pergi pagi pulang petang demi yang namanya uang. Terlihatlah manusia seakan diperbudak oleh nafsu dunia (uang). Dan kini uangnya menggunung di berbagai tempat penyimpanan (bank) di sebaliknya muncul satu pertanyaan kecil, apakah hidup cuma untuk uang dan uang? Kendaraan mewah, istri cantik, anak bersekolah tinggi dan hidup di lingkungan bisa terpandang semua itu karena uang. Namun ada rasa yang hambar di hati, Tuhan! Ya Tuhan, lupa akan bahwa Tuhan adalah di atas segalanya merupakan sumber petaka.

Di dalam kehidupan suatu negara misalnya Indonesia, uang juga merupakan penentu faktor kesejahteraan. Dan apakah negara yang memiliki uang banyak itu akan sejahtera? (belum tentu) karena banyaknya saja jumlah uang itu tidak menjamin kesejahteraan namun jumlah uang yang banyak dan merata di setiap daerah, ini pantas kita wujudkan!
Nah! Maka dari itu apakah tidak sebaiknya, Percetakan Uang Republik Indonesia atau pemerintah mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk melunasi hutang luar negeri ataupun membagi-bagikanya ke seluruh warga negara Indonesia?

Ada beberapa point yang perlu disampaikan untuk mencoba menjawab pertanyaan ini. Pertama di dalam percetakan atau penerbitan uang ada dua sistem yaitu ‘pseudo gold’ dan ‘uang fiat’. Pseudo gold merupakan percetakan uang dalam jumlah yang sebanding dengan jumlah persediaan emas dari badan yang menrbitkan uang tersebut. Sedangkan uang fiat tidak tergantung dengan cadangan emas yang dimilikinya, atau badan tersebut bebas menerbitkan atau mencetak uang sebanyak-banyaknya. Kedua, kita mengetahui bahwa harga dalam hukum ekonomi tergantung pada jumlah uang yang beredar dan jumlah persediaan barang. Jika jumlah persediaan barang melebihi jumlah uang yang beredar maka harga akan cenderung turun. Sebaliknya, jika jumlah uang melebihi jumlah persediaan barang harga akan cenderung naik. Maka dari ini kita akan mengatakan “Bahwa hukum tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi jumlah penerbitan uang.”

Karena belum mampu memaksimalkan pemungutan pajak dari rakyat, Ir. Soekarno pernah mengambil kebijakan untuk mencetak uang dalam jumlah yang besar (berlebih). Inflasi dalam jumlah yang tinggi hingga mencapai 650%, yang disebut hiper inflation. Kenapa tidak! Harga-harga melambung tinggi, dan berujung pada demonstrasi besar-besaran mahasiswa yang dikenal dengan ‘Tritura’ atau ‘tiga tuntutan rakyat’. Dan permintaan agar harga-harga diturunkan adalah salah satu dari tiga tuntutan tersebut.

Kita juga tahu, hal serupa terjadi pada Zimbabwe di tahun 2008 silam. Di mana pemerintahnya mengeluarkan kebijakan mencetak uang dalam jumlah besar untuk memperbanyak pegawai negeri guna membantu pemerintahan. Namun hasilnya tentu sangat tidak kita harapkan terjadi pada negeri tercinta ini, yaitu 2.200.000%. gila-gilaan bukan? Inflasi terjadi bukan dalam hitungan harian, mingguan atau bulanan. Tapi dalam hitungan detik dan menit, sehingga pada tanggal 20 Juli 2008 pemerintahnya mengeluarkan pecahan senilar 200 milyar.

Nah! Mengapa pemerintah Indonesia tidak mencetak uang sebanyak-banyaknya untuk melunasi hutang luar negeri atau membagi-bagikanya kepada seluruh warga negara?
Jika kita semua diberi uang masing-masing per kepala keluarga 1M oleh President jokowi. Mungkin si Udin jadi batal nanam cabenya, dan ia beli kendaraan baru-pergi ‘hangout’ kian kemari. Akhirnya produktivitas menjadi lesuh, karena petani cabe tidak ada lagi-cabe langka dan akhirnya inflasi pun terjadi. Kejadian ini disebut ‘Lingkaran Vicieus’ atau ada juga yang mengatakan ‘Lingkaran setan’.

Nah …! Sekarang kita dapat mengambil kesimpulan apakah kita mau seperti Zimbabwe yang pecahan ada senilai 200M. Jika mau ke pasar beli cabe kita akan bawa gerobak, untuk apa? Untuk tempat cabenya bukan? Bukanlah! Masa beli cabe 1 gerobak, emangnya mau bikin sambal 1 kampung? Itu gerobak untuk tempat membawa uang yang senilai dengan harga sekilo cabe. Ribet bukan?

Maka dari itu, masih ada hal-hal yang mesti kita banggakan dari negeri yang bernama Indonesia ini. Baik itu dari ragam suku dan budaya yang perlu secara gotong royong kita selamatkan, nilai tukar Rupiah juga harus terus kita angkat secara gotong royong juga. Karena hal ini tak hanya menjadi beban bagi pemerintah namun tanggung jawab kita semua.
Mari, kalau bukan kita siapa lagi. Kalau bukan sekarang kapan lagi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar